;

Selasa, 04 Mei 2010

HATI-HATI DENGAN SESAT LOGIKA KETIKA MENULIS


Salah satu kelemahan buku-buku populer adalah kurang memperhatikan logika berpikir. Barangkali karena disajikan secara ringan, jauh dari kesan ilmiah maka penulis seringkali menjadi kurang berhati-hati dalam menyejikan sebuah pernyataan.

Walaupun secara umum tidak menganggu pembaca dalam memahami pesan yang disampaikan. Namun cukup menganggu bagi pembaca yang kritis.

Tapi sebaiknya penulis perlu membekali tulisannya dengan pernyataan yang logis dan tidak menyesatkan.

Adapun bentuk-bentuk sesat logika yang sering muncul dalam buku-buku populer antara lain:

Membuat pernyataan mengeneralisasi
Saya sering menjumpau pernyatan-pernyataan menggunakan kata “ semua” “ seluruh”. Tentu Anda harus berhati-hati menggunakan kata ini misalnya dalam pernyataan.

“ Semua laki-laki jahat”. Semua pria suka mencuri”. Atau dalam sebuah buku saya menemukan statement “ Semua orang sukses adalah orang kreatif.

Tentu ini bisa dipertanyakan, apakah si penulis pernah meneliti seluruh orang yang sukses sehingga berkesimpulan demikian.

Akan lebih baik jika kita menggunakan kata yang tidak bersifat general seperti “ sebagian besar” “ sejumlah” “ kebanyakan”. Misalnya sebagian besar pria suka selingkuh.

Kemudian jika ada yang bertanya “ kok tetangga saya tidak” maka si pembuat pernyataan bisa menjawab “ Kan saya tidak bilang semua tapi sebagian besar tapi berarti ada yang juga yang tidak.

Namun agar lebih kuat sebaiknya pernyataan itu didukung argumen pendukung apakah hasil penelitian atau statement dari orang yang bisa dijadikan referensi.

Pembuktian yang kurang kuat

Mungkin ini agak terkait dengan contoh di atas. Misalnya saja Anda mengatakan “ Kebanyakan pria suka selingkuh. Buktinya teman saya suka selingkuh. “

Tentu ini adalah pembuktian yang kurang kuat pasalnya Anda hanya menjadikan satu kasus untuk mendukung pendapat Anda yang bersifat luas.

Sebaiknya Anda menggunakan bukti penelitian. Kalaupun dengan pengalaman Anda sebaiknya Anda menyebutkan “ sebagian besar teman-teman saya pernah melakukan perselingkuhan”. Atau 1 dari 2 orang yang saya kenal mengaku pernah melakukan perselingkuhan.

Salah dalam pengambulan kesimpulan
Seringkali penulis mengambil kesimpulan yang salah dari informasi yang ia sajikan. Misalnya “2 orang penulis yang saya kenal adalah orang kaya. Oleh sebab itu saya berkesimpulan bahwa penulis adalah pengusaha”.

Barangkali benar jika pengusaha kebanyakan adalah orang yang kaya. Namun bukan berarti jika ada penulis yang kaya adalah pengusaha.

Atau “Saya pernah menjumpai 2 orang Inggris suka bermain bola maka wajar kalau orang Inggris jago main bola” Tentu ini juga keliru karena pengalaman 2 orang tidak menjadi alasan yang kuat untuk mengatakan bahwa setiap orang Inggris jago main bola.

Oleh sebab itu ketika Anda menulis, sebaiknya cek kembali pernyataan yang Anda buat. Agar tidak membatasi flow Anda, lakukan pemeriksaan pada waktu akhir. Jika memang terjadi pernyataan yang tidak logika sebaiknya lakukan perbaikan.

Apakah dengan menambah bukti atau argumen. Namun jika pernyatan itu ternyata lemah sebaiknya tidak perlu dimasukkan atau dihapus saja.

Dengan menyajikan informasi yang logis, selain bermanfaat Anda juga menjamin bahwa apa yang Anda sampaikan tidak mengandung kesesatan. Sehingga pembaca dijamin bakal mendapatkan manfaat dari karya Anda.

Tidak ada komentar: