;

Kamis, 03 Juni 2010

TANGGUNG JAWAB SOSIAL SEORANG PENULIS


Saya baru-baru ini membaca buku yang membahas tentang kehidupan masyarakat elit. Dalam buku itu saya mendapat sebuah konsep menarik yakni tentang “orang-orang yang terlupakan”. Artinya seringkali apa yang kita sebut tentang keadilan, kesejahteraan dan kesuksesan sebuah negara lebih pada keadilan, kesejahteraan dan kesuksesan dalam pemahaman masyarakat elit.

Misalnya saja kita melihat bagaimana penegakan kebenaran disimbolkan pada kemenangan DPR vs Pemerintah dalam kasus Century. Kesejahteraan masyarakat digambarkan oleh data dan interpretasi statistik yang dibuat oleh pakar yang mungkin tidak pernah hidup dalam masyarakat yang serba kekurangan. Wajah real masyarakat Indonesia ditunjukkan oleh kehidupan sebagaimana dalam cerita sinentron yang wah, gaya hidup artis yang luar biasa serta pertunjukkan kehidupan masyarakat kelas atas di media massa.

Sehingga membuat sebagian besar dari kita tidak menyadari bahwa ada banyak masyarakat kita yang serba kekurangan. Ada banyak orang yang masih dihantui oleh kelaparan. Dan itu adalah bagian dari masyarakat kita.

Mungkin kehidupan mereka dekat dengan keberadaan kaum elit. Anak jalan ada dimana-mana, para tuna wisma bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Hanya saja perhatian kaum elit terinterupsi suara HP BB yang terus berdering membuat mereka lupa akan sesuatu disekitar mereka. Suara televisi di dalam mobil mewahnya yang tertutup dengan kaca hitam sehingga mereka lupa ada anak jalanan tepat di sebelah mobilnya. Atau kesehariaan kita dihabiskan dengan siaran radio, televisi, chating, FB yang kadang mengumbar dunia tanpa kesusahan.

Mungkin media massa menampilkan sisi lain dari bangsa Indonesia. Namun porsi waktu yang disediakan tidak lebih banyak dari kisah para selebritis dan kasus kontroversial dari para elit.

Oleh sebab itu bagaimana agar mereka kaum yang terlupakan kemudian hadir dalam ruang publik

Penulis yang Memiliki Tanggung Jawab Sosial
Menulis bisa menjadikan alat perjuangan bagi para penulis yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Penulis bisa mengabadikan hal-hal yang tidak terungkap untuk menciptakan sebuah reaksi dari khalayak ramai. Mungkin salah satu tokoh panutan adalah Bung Karno, yang mengungkapkan sisi buruk sebuah rezim penjajahan dari tulisan-tulisannya yang tajam. Atau Multatuli yang mengambarkan kemelaran masyarakat Indonesia akibat penjajahan dalam novelnya.

Pada dasarnya setiap penulis memiliki tanggung jawab sosial terhadap sesamamnya yang mengalami kesusahan. Apa yang bisa dilakukan setidaknya mengangkat sisi dari masyarakat yang terlupakan tersebut dengan kekuatan tulisannya. Penulis dapat menyuarakan suara batin masyarakat miskin yang terabaikan dan tidak bisa menyuarakan dirinya. Kisah tersebut kemudian diungkapkan melalui tulisan di berbagai media. Apakah itu melalui koran, majalah atau menuliskan buku tentang hal buruk dari masyarakat yang bisa ia lihat.

Jika tema-tema demikian tidak menarik bagi dunia penerbitan atau percetakan yang bernilai profit. Penulis masih bisa mengekspos melalui media online seperti blog, webite pribadi. Atau dengan membuat buku secara independen.

Hanya saja tidak semua penulis memiliki keinginan demikian. Sebagaian besar penulis khususnya di Indonesia masih dalam taraf pencapaian kebutuhan pribadi. Bahkan ikut serta dalam pengagungan elitisme. Setidaknya hal ini ditunjukkan dari novel-novel di Indonesia yang dituliskan dengan setting masyarakat elit. Mereka masih mengejar apa yang disebut orientasi egoistik berujung pada popularitas dan uang.

Tentu saya tidak bisa menyalahkan tujuan demikian. Namun seorang penulis yang sudah mendapatkan apa yang ia raih, mungkin ada baiknya rela sedikit beramal. Mungkin tidak sekedar memberikan uang kepada fakir miskin. Namun melakukan sebuah pekerjaan yang lebih besar yakni menyuarakan ungkapan hati masyarakat yang terlupakan.

Tapi akan lebih baik lagi jika seorang penulis sudah melakukannya ketika apa yang menjadi tujuan egoistiknya belum tercapai. Pasalnya ketika Anda tidak melakukan hal bisa menolong orang yang mengalami kehidupan yang tidak bermartabat dalam persepektif etika, Anda juga sudah turut serta mendukung keberadaan itu.

Oleh sebab itu, bagi rekan-rekan penulis, mari kita bersama-sama menyuarakan mereka yang terlupakan. Agar seluruh masyarakat Indonesia, pejabat negara, termasuk juga kaum elit menyadari keberadaan mereka dan mau melakukan sesuatu hal bagi mereka.

Jika Anda menemukan kisah orang-orang yang tidak makan, anak-anak tanpa orang tua yang terlantar di jalanan, wanita-wanita yang menjual dirinya akibat kemiskinan. Orang-orang kecil yang ditindas oleh hukum yang tidak keadilan dan banyak lagi kisah hidup tragis. Tuliskanlah itu dengan cara Anda, apakah dalam bentuk prosa, fiksi, non fiksi, apapun bentuknya ceritakan jika hal itu memang ada dan tengah terjadi.

1 komentar:

belahan jiwa mengatakan...

bergetar rasanya tubuh ini membacanya