;

Kamis, 24 Juni 2010

KETIKA IDE MENULIS BUKU KERING?

Apakah Anda sedang mengalami kehabisan ide menulis, padahal jumlah lembar naskah masih jauh dari target? Anda berharap bisa menyelesaikan sebuah naskah setebal 120 lembar, namun ketika baru menyelesaikan 80 lembar, Anda sudah tidak tahu lagi menulis apa?

Barangkali saran terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan mengendapkan tulisan Anda. Untuk sementara Anda menghentikan kegiatan menulis naskah tersebut. Namun pada masa jeda ini Anda gunakan menjaring ide.

Cara termudah adalah dengan membaca buku. Namun buku yang Anda baca sebaiknya tidak berhubungan dengan buku Anda. Atau kalaupun berkaitan mungkin Anda bisa mencari tema-tema baru. Dengan membaca buku-buku dengan tema-tema baru dapat membuka perspektif baru dalam pemikiran Anda.

Bacalah buku-buku tersebut bukan bertujuan untuk menjaring ide melainkan untuk bersenang-senang dengan buku tersebut. Namun tanpa Anda sadari sesungguhnya otak Anda mengolah informasi yang baru tersebut dan mengaitkan dengan informasi yang sudah terekam sebelumnya.

Sehingga mungkin Anda terkejut ketika Anda membaca buku itu tiba-tiba Anda mendapatkan inspirasi baru dan teringat naskah Anda. Jika itu terjadi sebaiknya langsung tuliskan pada selembar kertas, file kosong atau ke dalam naskah Anda.

Atau jika Anda tidak mendapatkan inspirasi secara mendadak, cobalah membaca kembali naskah Anda setelah beberapa hari berhenti menulis. Bisa jadi ketika Anda membaca naskah Anda, dengan informasi yang baru di dalam otak Anda, maka akan muncul ide-ide segar yang bisa Anda kembangkan dari apa yang sudah ada dalam naskah Anda. Kemudian tuliskan di kertas kosong, file baru atau langsung ke dalam naskah Anda.

Kamis, 03 Juni 2010

TANGGUNG JAWAB SOSIAL SEORANG PENULIS


Saya baru-baru ini membaca buku yang membahas tentang kehidupan masyarakat elit. Dalam buku itu saya mendapat sebuah konsep menarik yakni tentang “orang-orang yang terlupakan”. Artinya seringkali apa yang kita sebut tentang keadilan, kesejahteraan dan kesuksesan sebuah negara lebih pada keadilan, kesejahteraan dan kesuksesan dalam pemahaman masyarakat elit.

Misalnya saja kita melihat bagaimana penegakan kebenaran disimbolkan pada kemenangan DPR vs Pemerintah dalam kasus Century. Kesejahteraan masyarakat digambarkan oleh data dan interpretasi statistik yang dibuat oleh pakar yang mungkin tidak pernah hidup dalam masyarakat yang serba kekurangan. Wajah real masyarakat Indonesia ditunjukkan oleh kehidupan sebagaimana dalam cerita sinentron yang wah, gaya hidup artis yang luar biasa serta pertunjukkan kehidupan masyarakat kelas atas di media massa.

Sehingga membuat sebagian besar dari kita tidak menyadari bahwa ada banyak masyarakat kita yang serba kekurangan. Ada banyak orang yang masih dihantui oleh kelaparan. Dan itu adalah bagian dari masyarakat kita.

Mungkin kehidupan mereka dekat dengan keberadaan kaum elit. Anak jalan ada dimana-mana, para tuna wisma bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Hanya saja perhatian kaum elit terinterupsi suara HP BB yang terus berdering membuat mereka lupa akan sesuatu disekitar mereka. Suara televisi di dalam mobil mewahnya yang tertutup dengan kaca hitam sehingga mereka lupa ada anak jalanan tepat di sebelah mobilnya. Atau kesehariaan kita dihabiskan dengan siaran radio, televisi, chating, FB yang kadang mengumbar dunia tanpa kesusahan.

Mungkin media massa menampilkan sisi lain dari bangsa Indonesia. Namun porsi waktu yang disediakan tidak lebih banyak dari kisah para selebritis dan kasus kontroversial dari para elit.

Oleh sebab itu bagaimana agar mereka kaum yang terlupakan kemudian hadir dalam ruang publik

Penulis yang Memiliki Tanggung Jawab Sosial
Menulis bisa menjadikan alat perjuangan bagi para penulis yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Penulis bisa mengabadikan hal-hal yang tidak terungkap untuk menciptakan sebuah reaksi dari khalayak ramai. Mungkin salah satu tokoh panutan adalah Bung Karno, yang mengungkapkan sisi buruk sebuah rezim penjajahan dari tulisan-tulisannya yang tajam. Atau Multatuli yang mengambarkan kemelaran masyarakat Indonesia akibat penjajahan dalam novelnya.

Pada dasarnya setiap penulis memiliki tanggung jawab sosial terhadap sesamamnya yang mengalami kesusahan. Apa yang bisa dilakukan setidaknya mengangkat sisi dari masyarakat yang terlupakan tersebut dengan kekuatan tulisannya. Penulis dapat menyuarakan suara batin masyarakat miskin yang terabaikan dan tidak bisa menyuarakan dirinya. Kisah tersebut kemudian diungkapkan melalui tulisan di berbagai media. Apakah itu melalui koran, majalah atau menuliskan buku tentang hal buruk dari masyarakat yang bisa ia lihat.

Jika tema-tema demikian tidak menarik bagi dunia penerbitan atau percetakan yang bernilai profit. Penulis masih bisa mengekspos melalui media online seperti blog, webite pribadi. Atau dengan membuat buku secara independen.

Hanya saja tidak semua penulis memiliki keinginan demikian. Sebagaian besar penulis khususnya di Indonesia masih dalam taraf pencapaian kebutuhan pribadi. Bahkan ikut serta dalam pengagungan elitisme. Setidaknya hal ini ditunjukkan dari novel-novel di Indonesia yang dituliskan dengan setting masyarakat elit. Mereka masih mengejar apa yang disebut orientasi egoistik berujung pada popularitas dan uang.

Tentu saya tidak bisa menyalahkan tujuan demikian. Namun seorang penulis yang sudah mendapatkan apa yang ia raih, mungkin ada baiknya rela sedikit beramal. Mungkin tidak sekedar memberikan uang kepada fakir miskin. Namun melakukan sebuah pekerjaan yang lebih besar yakni menyuarakan ungkapan hati masyarakat yang terlupakan.

Tapi akan lebih baik lagi jika seorang penulis sudah melakukannya ketika apa yang menjadi tujuan egoistiknya belum tercapai. Pasalnya ketika Anda tidak melakukan hal bisa menolong orang yang mengalami kehidupan yang tidak bermartabat dalam persepektif etika, Anda juga sudah turut serta mendukung keberadaan itu.

Oleh sebab itu, bagi rekan-rekan penulis, mari kita bersama-sama menyuarakan mereka yang terlupakan. Agar seluruh masyarakat Indonesia, pejabat negara, termasuk juga kaum elit menyadari keberadaan mereka dan mau melakukan sesuatu hal bagi mereka.

Jika Anda menemukan kisah orang-orang yang tidak makan, anak-anak tanpa orang tua yang terlantar di jalanan, wanita-wanita yang menjual dirinya akibat kemiskinan. Orang-orang kecil yang ditindas oleh hukum yang tidak keadilan dan banyak lagi kisah hidup tragis. Tuliskanlah itu dengan cara Anda, apakah dalam bentuk prosa, fiksi, non fiksi, apapun bentuknya ceritakan jika hal itu memang ada dan tengah terjadi.

Jumat, 28 Mei 2010

BAGAIMANA ANDA BISA MENULIS BUKU DENGAN MUDAH


Jika saya mengatakan jika membuat buku itu sulit, mungkin ada benarnya. Namun tidak selama Anda mengetahui trik menulis buku dan mengirimkan ke penerbit.

Pertama yang ingin saya tekankan, Anda bisa membuat buku karya Anda sendiri? Karena Anda tidak sadar bahwa ada banyak hal yang Anda ketahui bisa dijadikan buku dan ingin dibaca banyak orang. Pengetahuan itu tidak selalu Anda dapatkan dari pendidikan formal melainkan juga dari pengalaman.

Sebagai gambaran coba simak uraian di bawah ini

1) Anda sudah pernah menikah : Anda bisa menulis buku tentang “ pra wedding” : dibutuhkan ratusan bahkan jutaan pasangan yang ingin menikah

2) Anda bekerja sebagai auditor: Anda bisa menulis buku tentang “ belajar akuntansi praktis”: dibutuhkan ribuan orang yang ingin bekerja sebagai auditor atau yang ingin belajar pembukuan.

3) Anda suka traveling: Anda bisa menulis buku tentang “ tempat menarik untuk touring”: Dibutuhkan ribuan orang yang suka berlibur

4) Anda sukses dengan bisnis konsultasi Anda: Anda bisa menulis buku “ sukses membangun usaha jasa”: dibutuhkan jutaan orang yang ingi berbisnis di bidang jasa

Dsb

Mungkin Anda tidak percaya jika pengalaman Anda bisa dibukukan. Bahkan untuk hal-hal yang remeh temeh seperti pengalaman menghadapi persiapah pernikahan, termasuk juga pengalaman menghadapi UMPTN, ujian PPNS. Pengalaman membuat berbagai masakah daerah dsb.

Dan penerbit membutuhkan buku-buku demikian karena potensi pembacanya cukup besar. Bagi penerbit naskah dengan pengetahuan rumit tidak lebih menarik dari hal-hal yang sederhana namun dibutuhkan banyak orang. Karena pertimbangan penerbit untuk menerbitkan buku Anda adalah seberapa besar karya Anda ini menjaring pembaca jika diterbitkan kelak.

Oleh sebab itu tuliskanlah pengalaman Anda menjadi buku. Siapa tahu dapat menembus penerbit dan jadi best seller.

Selasa, 04 Mei 2010

HATI-HATI DENGAN SESAT LOGIKA KETIKA MENULIS


Salah satu kelemahan buku-buku populer adalah kurang memperhatikan logika berpikir. Barangkali karena disajikan secara ringan, jauh dari kesan ilmiah maka penulis seringkali menjadi kurang berhati-hati dalam menyejikan sebuah pernyataan.

Walaupun secara umum tidak menganggu pembaca dalam memahami pesan yang disampaikan. Namun cukup menganggu bagi pembaca yang kritis.

Tapi sebaiknya penulis perlu membekali tulisannya dengan pernyataan yang logis dan tidak menyesatkan.

Adapun bentuk-bentuk sesat logika yang sering muncul dalam buku-buku populer antara lain:

Membuat pernyataan mengeneralisasi
Saya sering menjumpau pernyatan-pernyataan menggunakan kata “ semua” “ seluruh”. Tentu Anda harus berhati-hati menggunakan kata ini misalnya dalam pernyataan.

“ Semua laki-laki jahat”. Semua pria suka mencuri”. Atau dalam sebuah buku saya menemukan statement “ Semua orang sukses adalah orang kreatif.

Tentu ini bisa dipertanyakan, apakah si penulis pernah meneliti seluruh orang yang sukses sehingga berkesimpulan demikian.

Akan lebih baik jika kita menggunakan kata yang tidak bersifat general seperti “ sebagian besar” “ sejumlah” “ kebanyakan”. Misalnya sebagian besar pria suka selingkuh.

Kemudian jika ada yang bertanya “ kok tetangga saya tidak” maka si pembuat pernyataan bisa menjawab “ Kan saya tidak bilang semua tapi sebagian besar tapi berarti ada yang juga yang tidak.

Namun agar lebih kuat sebaiknya pernyataan itu didukung argumen pendukung apakah hasil penelitian atau statement dari orang yang bisa dijadikan referensi.

Pembuktian yang kurang kuat

Mungkin ini agak terkait dengan contoh di atas. Misalnya saja Anda mengatakan “ Kebanyakan pria suka selingkuh. Buktinya teman saya suka selingkuh. “

Tentu ini adalah pembuktian yang kurang kuat pasalnya Anda hanya menjadikan satu kasus untuk mendukung pendapat Anda yang bersifat luas.

Sebaiknya Anda menggunakan bukti penelitian. Kalaupun dengan pengalaman Anda sebaiknya Anda menyebutkan “ sebagian besar teman-teman saya pernah melakukan perselingkuhan”. Atau 1 dari 2 orang yang saya kenal mengaku pernah melakukan perselingkuhan.

Salah dalam pengambulan kesimpulan
Seringkali penulis mengambil kesimpulan yang salah dari informasi yang ia sajikan. Misalnya “2 orang penulis yang saya kenal adalah orang kaya. Oleh sebab itu saya berkesimpulan bahwa penulis adalah pengusaha”.

Barangkali benar jika pengusaha kebanyakan adalah orang yang kaya. Namun bukan berarti jika ada penulis yang kaya adalah pengusaha.

Atau “Saya pernah menjumpai 2 orang Inggris suka bermain bola maka wajar kalau orang Inggris jago main bola” Tentu ini juga keliru karena pengalaman 2 orang tidak menjadi alasan yang kuat untuk mengatakan bahwa setiap orang Inggris jago main bola.

Oleh sebab itu ketika Anda menulis, sebaiknya cek kembali pernyataan yang Anda buat. Agar tidak membatasi flow Anda, lakukan pemeriksaan pada waktu akhir. Jika memang terjadi pernyataan yang tidak logika sebaiknya lakukan perbaikan.

Apakah dengan menambah bukti atau argumen. Namun jika pernyatan itu ternyata lemah sebaiknya tidak perlu dimasukkan atau dihapus saja.

Dengan menyajikan informasi yang logis, selain bermanfaat Anda juga menjamin bahwa apa yang Anda sampaikan tidak mengandung kesesatan. Sehingga pembaca dijamin bakal mendapatkan manfaat dari karya Anda.

Kamis, 29 April 2010

Lowongan Pekerjaan Jurnalis

Media Perkebunan, majalah perkebunan pertama di Indonesia, membuka kesempatan bagi rekan-rekan yang bersedia bergabung sebagai jurnalis. Adapun kriteria yang dibutuhkan

1. Pria/ wanita berumur 21 s.d 30 tahun
2. Pendidikan S1 (diutamakan di bidang pertanian)
3. Memiliki kemampuan menulis
4. Siap ditugaskan melakukan liputan ke berbagai wilayah di Indonesia

Bagi yang berminat silahkan mengirimkan lamaran yang disertai dengan
1. CV
2. Contoh artikel yang pernah di tulis

ke alamat email moan_bb@yahoo.com selambat-lambatnya Mei 2010. Bagi yang memenuhi persyaratan akan kami hubungi lebih lanjut.

Sekretariat Media Perkebunan
Kantor Pusat Departemen Pertanian
Gd C. Lt 5
Jl. Harsono RM No. 3, Ragunan-Jakarta Selatan

Rabu, 28 April 2010

PELUANG MENJADI GOSHWRITER


Menjadi goshwriter menjadi salah satu bentuk profesi penulisan yang cukup menjanjikan. Pasalnya banyak orang yang membutuhkan jasa ini.

Dalam pemahaman saya goshwriter adalah penulis yang bekerja untuk membuat artikel atau naskah buku untuk orang lain. Namun materi dan substansi penulisan dari orang yang menggunakan jasa. Materi bisa diperoleh dari bahan wawancara, materi blog, materi presentasi, hand out atau dokumen tertulis lainnya.

Biasanya orang-orang yang menggunakan jasa goshwriter adalah tokoh-tokoh terkenal atau seorang yang cukup mapan secara di karirnya namun tidak punya waktu untuk menuliskan pemikiran atau kisah hidupnya ke dalam sebuah buku. Ada juga yang mengaku “ tidak pandai menulis” sehingga terpaksa menggunakan jasa orang lain.

Keuntungan
Keuntungan bagi penulis yang menawarkan jasa sebagai ghoshwriter, tentunya bisa mengenal lebih dekat tokoh ternama yang ingin menggunakan jasanya. Namun keuntungan utamanya, jelas mendapatkan penghasilan yang cukup lumayan.

Boleh dikatakan rate untuk penulis goshwriter tidak bersifat mutlak. Tentu ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan dan pengalaman si penulis dan kerelaan si pengguna jasa untuk membayar.

Untuk penulis yang sudah cukup dikenal memiliki banyak karya tulis atau buku mungkin memiliki ratenya sendiri yang bisa jadi jauh di atas penulis pemula. Sedangkan dari pihak pengguna jasa, ada saja yang dengan gampang menjanjikan harga tinggi. “Untuk buku saya, bapak akan saya bayar Rp. 30.000.000,-“. Namun ada juga yang masih harus tawar menawar dengan penulis mengenai harga.

Kemampuan yang harus dimiliki
Untuk menjadi goshwriter maka seorang penulis harus mampu menulis secara terjadwal. Jika ia mood-mood an , atau menulis sewaktu lagi bersemangat, akan menyulitkannya karena bisanya menjadi goshwriter harus siap bekerja dengan target. Misalnya dalam waktu 3 bulan naskah harus selesai.

Selain itu penulis goshwriter harus mempu menguasai beberapa teknik daya penulisan. Mulai dari yang santai sampai yang serius. Kalau penulis hanya bisa menulis dengan gaya sangat populer maka ia akan kesulitan ketika diminta menulis biografi dengan gaya formal.

Penulis goshwriter harus mampu membahasakan data-data yang tidak terstruktur. Seperti hasil wawancara, materi powerpoint, bahan audio dsb. Ini penting karena biasanya pengguna jasa akan memberikan informasi yang kadang tidak saling berhubungan. Disinilah kejelian penulis meramunya untuk menghasilkan naskah yang berkualitas.

Senin, 19 April 2010

FORMAT TULISAN BLOG/WEBSITE VS TULISAN MEDIA CETAK


Membuat tulisan untuk blog mungkin agak berbeda dengan tulisan di media cetak. Pasalnya di media cetak tulisan cukup panjang dan perlu penjelasan yang lebih detail. Namun untuk website atau blog sebaiknya tidak demikian.

Harus disadari membaca tulisan dari layar kaca komputer lebih melelahkan dibandingkan membaca via dokumen. Pasalnya radiasi dari monitor komputer cepat membuat lelah mata pembaca apalagi jika tulisannya cukup kecil.

Maka ketika membuat tulisan untuk blog atau website sebaiknya cukup beberapa alinea. Dan alinea yang digunakan pendek-pendek terdiri dari beberapa kalimat. Tujuannya agar pembaca memiliki titik istirahat biasanya pada pengantian kalimat atau pergantian alinea.

Kemudian sebaiknya pesan utama yang ingin disampaikan sudah tertuang pada alinea awal. Sehingga pembaca sudah mengetahui informasi yang ingin disampaikan sejak pertama membaca.

Oleh sebab itu jika seorang pengelola blog menerima tulisan panjang terdiri dari beberapa sub judul. Maka ia akan memecah-mecahkan menjadi beberapa tulisan. Dimana masing-masing sub judul menjadi sebuah artikel yang baru.

Jadi seperti tulisan ini, menggunakan kalimat dan alinea yang pendek. Tulisan singkat tapi informatif. Apakah mata Anda lelah membaca tulisan ini?