Sebagai penulis buku non-fiksi tentu kita harus memberikan informasi terakurat, terlengkap dan teraktual kepada pembaca. Hanya saja kadang kita harus membatasi hal yang kita sampaikan demi kenyamanan pembaca?
Barangkali penjelasannya demikian. Jika saya adalah seorang pakar psikologi, maka saya bisa membahas sebuah topik tentang "kesadaran" secara mendalam, dan terperinci. Dengan harapan dalam sebuah buku saya bisa menyampaikan segala sesuatu yang saya ketahui.
Sehingga saya harus membuat penjelasan yang mendetail, abstrak, dipenuhi istilah-istilah untuk menyebutkan hal-hal yang tidak diketahui pembaca awam. Tentu model buku seperti ini barangkali adalah seperti buku teks di kampus.
Namun niat baik saya ini kadang bisa menjadi kontra produktif. Apalagi jika saya ingin buku ini dibaca oleh masyarakat luas. Pasalnya karena terlalu mendalam, terlalu detail pembaca awam bakal kesulitan memahami buku saya.
Sebelum kita menuliskan sesuatu, ingatlah pembaca Anda, khususnya mereka yang awam, memiliki kapasitas terbatas untuk memahami dan menampung informasi yang Anda sampaikan. Oleh sebab itu sampaikan hal yang Anda ketahui secara bertahap dan terbatas.
Jadi ketika Anda ingin mengedukasi pembaca Anda terhadap pembaca Anda awali dengan pengenalan secara umum. Siapkan terlebih dahulu buku-buku yang bersifat pengantar. Ini khusus untuk mereka yang belum begitu familiar terhadap topik yang Anda sampaikan.
Setelah itu Anda bisa membuat buku yang bersifat lanjutan. Tentunya dengan informasi yang lebih mendalam. Khususnya untuk mereka yang ingin memperdalam.
Kemudian Anda bisa membuat buku tingkat expert, yang berisikan pengembangan ide atau konsep, untuk mengambarkan posisi Anda terkait bidang tertentu. Buku demikian tentu ditujukan bagi pembaca yang merupakan pakar.
Ini adalah penyebab mengapa banyak buku-buku karya akademisi, yang kaya informasi bermanfaat, agak kurang memberikan dampak yang luas. Pasalnya apa yang mereka sampaikan demikian kompleks. Sehingga akan sulit dipahami orang-orang awam.
Jadi jika Anda ingin pengetahuan anda bermanfaat bagi masyarakat luas melalui sebuah buku. Maka saran sederhana adalah sampaikan secara bertahap. Sehingga pembaca dengan berbagai tingkat pemahaman bisa mendapatkan banyak hal dari buku-buku Anda.
Rabu, 13 Januari 2010
Selasa, 12 Januari 2010
BAGAIMANA PENULIS MENDAPATKAN UANG?
Seorang penulis memiliki peluang menjadi seorang jutawan. Meskipun hubungannya tidak selalu bersifat absolut.
Pasalnya tidak setiap penulis sukses bisa mendadak bergelimpangan materi. Ada juga yang harus mengalami kehidupan yang morat-marit.
Namun tidak dapat dipungkiri menjadi penulis bisa mendatangkan uang. Khususnya bagi mereka yang telah menerbitkan buku.
Tentu pertanyaannya kemudian, bagaimanakah seorang penulis dapat memperoleh manfaat materi dari karyanya?
Royality
Seorang penulis dipastikan bisa mendapatkan uang dari royalti penjualan buku. Biasanya penerbit menawarkan 10 persen dari nilai penjualan buku. Hanya saja penghasilan tersebut akan tergantung dari sukses penjualan.
Buku yang laris manis bisa menjadikan penulis mendadak kaya raya. Namun jika penjualannya agar kurang, maka hasil yang bisa diperoleh penulis cukup sedikit.
Belum lagi jika penerbit tidak secara terbuka memberikan informasi penjualan yang sesungguhnya. Seolah penjualan selalu tidak menggembirakan. Sehingga si penulis mau tidak mau harus menerima nilai royalti yang rendah.
Jual Lepas
Namun seorang penulis bisa saja mendapatkan uang dengan cara lebih cepat dari sistem royalti. Misalnya dengan melakukan penjualan naskah. Artinya ketika karyanya selesai dituliskan ia menjualnya kepada penerbit seharga tertentu.
Manfaat dengan sistem ini adalah penulis bisa langsung mendapatkan uang cash di depan. Namun pendapatan dari cara ini bisa saja lebih kecil dari penerimaan sistem royalti. Apalagi jika buku laris manis di pasaran, maka keuntungan akan sepenuhnya milik penerbit.
Menjadi Pakar
Disamping cara itu, ada juga penulis yang rela dengan cuma-cuma memberikan naskahnya kepada penerbit untuk bisa diterbitkan. Bahkan ia tidak terlalu ambil pusing dengan ada tidaknya pembagian royalti. Hanya saja ia mensyaratkan buku didistribusikan dengan baik dan luas.
Penulis demikian umumnya ingin mendapatkan keuntungan bukan dari penjualan buku secara langsung. Namun image yang terbentuk dampak dari penulisan bukunya itu.
Saya pernah menulis buku tentang Informasi Teknologi (IT). Tujuannya untuk mendukung rencana saya menjadi konsultan marketing online. Dan buku tersebut cukup efektif menciptakan positioning saya dan mendatangkan klien saya.
Penghasilan dari pembentukan image ini bisa sangat besar. Bahkan jauh melampaui penghasilan dari royalti. Namun kesuksesan penjualan buku akan sangat menentukan efektivitas dalam penciptaan positioning. Mustahil bagi si penulis mendapatkan pelanggan atau mendapatkan label sebagai pakar, jika tidak ada satupun bukunya yang laku dipasaran.
Demikianlah beberapa cara penulis mendapatkan uang. Kemudian pilihan terbaik akan sangat tergantung kebutuhan dan situasi yang dihadapi si penulis. Jika si penulis ingin mendapatkan uang segera maka sistem jual lepas bisa dijadikan pilihan.
Namun jika ia yakin dengan kualitas bukunya dan ingin mendapatkan penghasilan secara berkala maka sistem royalti layak dijadikan pilihan. Tapi jika ingin mendapatkan penghasilan jangka panjang dalam jumlah besar maka pendapatan dari kepakaran merupakan pilihan yang tepat.
Pasalnya tidak setiap penulis sukses bisa mendadak bergelimpangan materi. Ada juga yang harus mengalami kehidupan yang morat-marit.
Namun tidak dapat dipungkiri menjadi penulis bisa mendatangkan uang. Khususnya bagi mereka yang telah menerbitkan buku.
Tentu pertanyaannya kemudian, bagaimanakah seorang penulis dapat memperoleh manfaat materi dari karyanya?
Royality
Seorang penulis dipastikan bisa mendapatkan uang dari royalti penjualan buku. Biasanya penerbit menawarkan 10 persen dari nilai penjualan buku. Hanya saja penghasilan tersebut akan tergantung dari sukses penjualan.
Buku yang laris manis bisa menjadikan penulis mendadak kaya raya. Namun jika penjualannya agar kurang, maka hasil yang bisa diperoleh penulis cukup sedikit.
Belum lagi jika penerbit tidak secara terbuka memberikan informasi penjualan yang sesungguhnya. Seolah penjualan selalu tidak menggembirakan. Sehingga si penulis mau tidak mau harus menerima nilai royalti yang rendah.
Jual Lepas
Namun seorang penulis bisa saja mendapatkan uang dengan cara lebih cepat dari sistem royalti. Misalnya dengan melakukan penjualan naskah. Artinya ketika karyanya selesai dituliskan ia menjualnya kepada penerbit seharga tertentu.
Manfaat dengan sistem ini adalah penulis bisa langsung mendapatkan uang cash di depan. Namun pendapatan dari cara ini bisa saja lebih kecil dari penerimaan sistem royalti. Apalagi jika buku laris manis di pasaran, maka keuntungan akan sepenuhnya milik penerbit.
Menjadi Pakar
Disamping cara itu, ada juga penulis yang rela dengan cuma-cuma memberikan naskahnya kepada penerbit untuk bisa diterbitkan. Bahkan ia tidak terlalu ambil pusing dengan ada tidaknya pembagian royalti. Hanya saja ia mensyaratkan buku didistribusikan dengan baik dan luas.
Penulis demikian umumnya ingin mendapatkan keuntungan bukan dari penjualan buku secara langsung. Namun image yang terbentuk dampak dari penulisan bukunya itu.
Saya pernah menulis buku tentang Informasi Teknologi (IT). Tujuannya untuk mendukung rencana saya menjadi konsultan marketing online. Dan buku tersebut cukup efektif menciptakan positioning saya dan mendatangkan klien saya.
Penghasilan dari pembentukan image ini bisa sangat besar. Bahkan jauh melampaui penghasilan dari royalti. Namun kesuksesan penjualan buku akan sangat menentukan efektivitas dalam penciptaan positioning. Mustahil bagi si penulis mendapatkan pelanggan atau mendapatkan label sebagai pakar, jika tidak ada satupun bukunya yang laku dipasaran.
Demikianlah beberapa cara penulis mendapatkan uang. Kemudian pilihan terbaik akan sangat tergantung kebutuhan dan situasi yang dihadapi si penulis. Jika si penulis ingin mendapatkan uang segera maka sistem jual lepas bisa dijadikan pilihan.
Namun jika ia yakin dengan kualitas bukunya dan ingin mendapatkan penghasilan secara berkala maka sistem royalti layak dijadikan pilihan. Tapi jika ingin mendapatkan penghasilan jangka panjang dalam jumlah besar maka pendapatan dari kepakaran merupakan pilihan yang tepat.
Jumat, 01 Januari 2010
BUKU "BERPIKIR SEPERTI FILOSOF"

Mungkin anak filsafat akan sangat kesal dengan buku ini. Mengapa? Apa karena isinya tidak menarik?
Tidak juga. Melainkan karena buku ini terlalu sederhana untuk disebut buku filsafat. Filsafat harusnya ditempatkan di posisi yang eksklusif dan "menakutkan". Sehingga hanya sedikit orang seharusnya yang tertarik mempelajarinya.
Namun buku ini terasa ringat meskipun membahas sesuatu yang tidak ringan. Maklum buku ditulis dengan bahasa yang cukup sederhana namun cukup inspiratif.
Buku ini bakal membeberkan cara-cara menjadi filsuf dengan cara mudah. Sekaligus memberitahu para pembacanya bahwa ia pernah menjadi filsuf tanpa disadari. Dan juga bisa menjadi filsuf secara permanen.
Buku ini ditulis dengan gaya bebas dan ringan untuk menghindari kesan bahwa filsafat itu sesuatu membosankan. Buku ini bakal memperkenalkan cara-cara bagaimana bisa lekas menjadi seorang filsuf? Tentunya dengan cara-cara yang ternyata tidak sulit.
So, bagi Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut isi buku ini silahkan mengunjungi Toko buku Gramedia atau Gunung di tempat Anda.
JUDUL BUKU: BERPIKIR SEPERTI FILOSOF
KARYA: HENDRA HALOMOAN SIPAYUNG
PENERBIT: AR-RUZZ MEDIA
Label:
Buku kami
Jumat, 11 Desember 2009
BUKU HEBOH " MENGAMANKAN JARINGAN KOMPUTER DENGAN UNTANGLE"
Barangkali ini adalah satu-satunya buku yang memberikan informasi terlengkap tentang cara mengamankan jaringan komputer. Hebatnya sistem yang ditawarkan bersifat menyeluruh. Mengatasi spam, virus, spyware dan hacker sekaligus.
Tentu Anda akan bertanya, pasti penulis menawarkan solusi menggunakan sejumlah software bajakan. Kalaupun menggunakan yang original dipastikan harganya mahal.
Ajaibnya, penulis menawarkan sebuah aplikasi misterius yang mampu mengatasi masalah di atas dengan mudah dan GRATIS. Bagaimana bisa? Silahkan dapatkan informasinya pada "Mengamankan Jaringan Komputer dengan Untangle" yang ditulis oleh Saudara Yuan Yudistira yang tak lain alumni dari "Sipayung Konsultan".
Label:
Buku kami
Rabu, 09 Desember 2009
NASKAH YANG SEDANG KAMI KERJAKAN
Kami saat ini tengah mempersiapkan naskah baru tentang “Trik Memasarkan Produk dan Jasa Menggunakan Email”, Dimana naskah ini sebagian besar didasarkan pada pengalaman kami menjual berbagai jenis barang dan jasa melalui surat elektronik tersebut yang terhubung melalui milis. Kami mencoba membagikan trik-trik yang terbukti efektif untuk menjaring penjual atau klien.
Naskah ini sendiri sedang dalam proses penulisan, 50 persen mendekati finishing. Ditargetkan naskah ini selesai Bulan depan. Beberapa penerbit rekanan berminat menerbitkan naskah ini. Namun saya ingin membuka kesempatan buat penerbit lain yang ingin membeli naskah ini, dimana dana ini akan kami gunakan bagi persiapan pengembangan usaha workshop penulisan, kami rencanakan mulai dijalankan tahun depan.
Bagi yang berminat dapat menghubungi kami melalui nomor yang tertera di blog ini.
Naskah ini sendiri sedang dalam proses penulisan, 50 persen mendekati finishing. Ditargetkan naskah ini selesai Bulan depan. Beberapa penerbit rekanan berminat menerbitkan naskah ini. Namun saya ingin membuka kesempatan buat penerbit lain yang ingin membeli naskah ini, dimana dana ini akan kami gunakan bagi persiapan pengembangan usaha workshop penulisan, kami rencanakan mulai dijalankan tahun depan.
Bagi yang berminat dapat menghubungi kami melalui nomor yang tertera di blog ini.
Selasa, 08 Desember 2009
BUKU MENARIK

Telah terbit buku berjudul "Seni Cekcok Positif Suami Istri" diterbitkan oleh Insan Madani. Buku ini dapat diperoleh di toko buku terdekat.
Label:
Buku kami
Minggu, 06 Desember 2009
PENTINGNYA KOLEKSI FOTO BAGI PENULIS
Saya sering menghadapi kesulitan mendapatkan foto-foto orisinil ketika menyusun sebuah naskah, khususnya yang bertemakan pertanian. Ketika saya menulis buku tentang “waralaba benih” saya harus mau berjibaku mengumpulkan foto yang relevan untuk naskah saya. Bahkan harus sedikit merogoh kocek untuk membeli CD kumpulan gambar-gambar kelapa sawit.
Karena ketika saya menyebutkan “benih kelapa sawit” dalam naskah tersebut, akan sangat mudah bagi pembaca membayangkannya ketika saya menampilkan gambar benih tersebut .
Oleh sebab penulis buku-buku bertajuk pertanian, peternakan atau tema-tema yang membutuhkan gambar sebagai ilustrasi atau memberikan konteks penulisan, sebaiknya rajin untuk mengumpulkan foto-foto menarik.
Idealnya seorang penulis memiliki kamera pribadi yang dapat menghasilkan gambar beresolusi tinggi. Dan setiap hasil jepretan di lapangan sebaiknya dipilih yang berkualitas baik dan disimpan dalam file khususnya. Bisa saja gambar-gambar tersebut saat ini tidak dibutuhkan, tapi ketika akan menulis naskah yang berkaitan foto-foto tersebut menjadi sedemikian berharga.
Adakalanya semakin orisinal gambar yang Anda miliki akan semakin bernilai buku Anda. Coba bayangkan Anda menulis buku tentang "binatang aneh penghuni hutan Sumatera" dan Anda bisa menampilkan berbagai bentuk binatang aneh, hasil jepretan Anda sendiri . Bisa jadi orang kemudian membeli buku Anda karena penasaran ingin melihat hasil cepretan Anda tersebut.
Oleh sebab itu mengoleksi foto-foto juga menjadi kebutuhan seorang penulis. Khususnya untuk buku-buku yang membutuhkan ilustrasi secara visual.
Karena ketika saya menyebutkan “benih kelapa sawit” dalam naskah tersebut, akan sangat mudah bagi pembaca membayangkannya ketika saya menampilkan gambar benih tersebut .
Oleh sebab penulis buku-buku bertajuk pertanian, peternakan atau tema-tema yang membutuhkan gambar sebagai ilustrasi atau memberikan konteks penulisan, sebaiknya rajin untuk mengumpulkan foto-foto menarik.
Idealnya seorang penulis memiliki kamera pribadi yang dapat menghasilkan gambar beresolusi tinggi. Dan setiap hasil jepretan di lapangan sebaiknya dipilih yang berkualitas baik dan disimpan dalam file khususnya. Bisa saja gambar-gambar tersebut saat ini tidak dibutuhkan, tapi ketika akan menulis naskah yang berkaitan foto-foto tersebut menjadi sedemikian berharga.
Adakalanya semakin orisinal gambar yang Anda miliki akan semakin bernilai buku Anda. Coba bayangkan Anda menulis buku tentang "binatang aneh penghuni hutan Sumatera" dan Anda bisa menampilkan berbagai bentuk binatang aneh, hasil jepretan Anda sendiri . Bisa jadi orang kemudian membeli buku Anda karena penasaran ingin melihat hasil cepretan Anda tersebut.
Oleh sebab itu mengoleksi foto-foto juga menjadi kebutuhan seorang penulis. Khususnya untuk buku-buku yang membutuhkan ilustrasi secara visual.
Label:
trik penulisan
Langganan:
Postingan (Atom)