;

Rabu, 30 Maret 2011

MAHASISWA “MALES” BACA?

Apa jadinya jika calon intelektual kita tidak senang membaca buku. Kenyataan yang mengerutkan dahi ini saya temukan berdasarkan cerita para penjual buku di sejumlah kampus yang menjadi langganan saya.

Sebagaimana juga diungkapkan seorang penjual buku favorit saya, yang memiliki koleksi buku yang terbilang lengkap, dan tokonhya dekat dengan salah satu univesitas negeri ternama di bilangan Depok

“ Mahasiswa di kampus ini males baca. Buktinya yang datang kemari untuk membeli buku kuliah atau buku-buku pemikiran jarang. Mereka senangnya memfoto-copi buku, sampai-sampai saya terpaksa harus menyediakan jasa penyewaan buku untuk difotocopy. Kalaupun ada yang beli paling 5 bulan kemudia bukunya sudah kembali ke saya (alias dijual). Anehnya mereka melakukan ini bukan karena tidak ada uang, padahal mereka penampilan dan HP yang mereka pake (kebanyakan BB) seperti mereka orang yang mampu membeli buku”, ungkap, mengungkapkan,

Mirisnya ini terjadi para sebuah kampus yang menjadi barometer pendidikan tinggi di Indonesia, yang konon masuk dalam univesitas negeri terbaik di Indonesia, yang kampusnya rindang karena banyak pepohonan. Hal ini juga saya jumpai di kampus-kampus lainnya berdasarkan kisah para penjual buku.

Komentar dalam hati saya adalah, “Menyedihkan”.

Saya merasakan betul manfaatnya membaca buku. Tanpa ratusan buku bahkan ribuan buku yang saya baca, mustahil saya bisa menulis puluhan buku, membimbing banyak penulis muda. Karena seluruh pengetahuan itu saya dapatkan dari lembar-lembar buku yang saya baca.

Saya bisa membagikan banyak hal karena saya mengisi pikiran saya dengan berbagai materi. Tentu menjadi pertanyaan, apakah yang kemudian bisa mereka kerjakan saat mereka masuk ke dunia nyata, jika mereka hanya mengisi otak mereka dengan apa yang disampaikan oleh para pengajar mereka.

Ironisnya apa yang diajarkan tidak berbeda 5 tahun yang lalu, namun setiap hari pengetahuan baru ditemukan. Ribuan penelitian dihasilkan setiap harinya. Padahal untuk menghasilkan ide-ide cemerlang mereka membutuhkan banyak input bermutu.

Tentu ini menjadi keprihatinan saya ketika mendapati jika banyak calon intelektual muda Indonesia ternyata males membaca. Dengan minimnya wawasan yang mereka miliki bukan mustahil, kemudian hari mereka akan mengikuti jejak seniornya, yakni meraih kesuksesan dengan cara yang “orang bodohpun bisa melakukannya”. Mencuri=korupsi, memalak= mengharapkan tips, fee dari value yang tidak mereka ciptakan, sukses tanpa bekerja melainkan mengharapkan backingan. Jadi bukan meraih kesuksesannya dengan memberikan apa yang dibutuhkan banyak orang.

Tidak ada komentar: