;

Selasa, 09 Maret 2010

ILUSTRASI VS PESAN

Ilustrasi dibutuhkan untuk mendukung sebuah pernyataan atau teori dalam sebuah artikel. Namun penggunaan ilustrasi pada sebuah tulisan dapat menyulitkan pembaca untuk menangkap maksud yang hendak disampaikan penulis.

Boleh dikatakan artikel yang dipenuhi konsep atau teori tanpa adanya ilustrasi atau contoh bakal membosankan. Apalagi konsep yang disampaikan cukup “mendalam” atau njelimet. Dipastikan pembaca yang tidak memiliki modal pengetahuan yang memadai bakal kebingungan.

Sehingga dalam sebuah tulisan demikian diperlukan ilustrasi. Fungsinya memberikan gambaran atau kontekstual terhadap teori yang disajikan. Apakah itu berupa analogi atau contoh kasus.

Hanya saja penulis sering menggunakan ilustrasi untuk ”mempertebal halaman”. Saya sering menjumpai buku-buku yang padat dengan ilustrasi. Pesannya cukup sederhana dan sebenarnya bisa disajikan dalam 70 lembar. Namun karena dipenuhi ilustrasi sehingga naskahnya mencapai 120 lembar.

Pertanyaannya kemudian tentunya, apakah strategi demikian tidak tepat?

Tentu saya tidak dapat menghakimi penulis yang melakukan demikian. Hanya saja saya sering mendapati buku-buku yang ilustrasi ada membuat saya kesulitan mendapatkan ide dasar dan keterkaitan antar konsep. Mengapa?

Ilustrasi telah menutupi ide yang disampaikan penulis. Konsep pertama diselingi ilustrasi yang terlalu panjang sebelum masuk ke konsep kedua sehingga pembaca tidak lagi melihat adanya benang merahnya. Pasalnya pikiran si pembaca sudah dipenuhi dengan ilustrasi dan terlanjur kelelahan untuk memahami konsep selanjutnya.

Oleh sebab tidak ada salahnya bagi penulis menggunakan ilustrasi. Tapi sebaiknya tidak membuat pesan utama menjadi kabur. Ilustrasi sebaiknya digunakan untuk memudahkan pembaca untuk memahami konsep yang disajikan penulis. Karena lebih baik membuat naskah 3 lembar tapi padat dibandingkan 5 lembar namun dipenuhi ilustrasi yang tidak perlu dan menguras energi pembaca untuk menyimaknya.

Tidak ada komentar: